Komoditi pertanian diusahakan dengan penuh keyakinan
tinggi untuk menghadapi, menerima dan meminimalisir resiko. Ini disebabkan karena komoditi
pertanian memiliki keterkaitan siklus biologi dan ekologi yang saling
bermutualisme. Ketika salah satu komponen tidak memenuhi syarat, maka resiko
akan muncul dan membutuhkan upaya serius dalam pemulihan dan yang paling utama
adalah akan merusak semangat tani sebagian orang yang berkecimpung di dalamnya.
Organisme pengganggu
tanaman (OPT) merupakan elemen pembatas produksi tanaman yang secara garis
besar dibagi menjadi tiga yaitu hama, penyakit dan gulma. Hama dan Penyakit menimbulkan
gangguan tanaman secara fisik dan gangguan fisiologis pada tanaman, sedangkan
gulma berkaitan dengan persaingan dalam memperoleh nutrisi hara dari dalam
tanah. Perkembangan hama dan penyakit sangat dipengaruhi oleh dinamika faktor
iklim. Sehingga tidak heran kalau pada musim hujan dunia pertanian banyak
disibukkan oleh masalah penyakit tanaman, sedangkan pada musim kemarau banyak
masalah hama.
Iklim adalah sumber daya vital yang diperlukan bagi kegiatan pertanian dan
merupakan faktor penentu produktivitas dan kualitas hasil terutama bila iklim
sesuai dengan yang
diperlukan oleh kegiatan pertanian. Sebaliknya, kondi
si iklim yang tidak sesuai dapat menjadi kendala dan ancaman bagi kegiatan pertanian yang mengakibatkan instabilitas dan kegagalan produksi pertanian. Secara langsung iklim menentukan produksi dan pertumbuhan tanaman melalui penyediaan curah hujan, air dan unsur-unsur iklim yang lainnya seperti suhu, kelembaban dan radiasi. Kondisi iklim akan menentukan jenis tanaman yang akan dibudidayakan, varietas, pola tanam, areal tanam, musim tanam serta efisiensi produksi dalam memanfaatkan unsur-unsur iklim. Secara tidak langsung, iklim dapat menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja faktor-faktor produksi lainnya termasuk penggunaan berbagai input produksi seperti pupuk buatan, sumber daya lahan dan air serta kestabilan ekosistem. Iklim mempengaruhi intensitas dan luas serangan OPT dan juga keberhasilan upaya pengendaliannya. Aplikasi dan pengembangan teknologi budidaya dan usaha tani seperti PHT, pemupukan berimbang, pertanian organik harus mempertimbangkan iklim (Untung, 1997)
diperlukan oleh kegiatan pertanian. Sebaliknya, kondi
si iklim yang tidak sesuai dapat menjadi kendala dan ancaman bagi kegiatan pertanian yang mengakibatkan instabilitas dan kegagalan produksi pertanian. Secara langsung iklim menentukan produksi dan pertumbuhan tanaman melalui penyediaan curah hujan, air dan unsur-unsur iklim yang lainnya seperti suhu, kelembaban dan radiasi. Kondisi iklim akan menentukan jenis tanaman yang akan dibudidayakan, varietas, pola tanam, areal tanam, musim tanam serta efisiensi produksi dalam memanfaatkan unsur-unsur iklim. Secara tidak langsung, iklim dapat menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja faktor-faktor produksi lainnya termasuk penggunaan berbagai input produksi seperti pupuk buatan, sumber daya lahan dan air serta kestabilan ekosistem. Iklim mempengaruhi intensitas dan luas serangan OPT dan juga keberhasilan upaya pengendaliannya. Aplikasi dan pengembangan teknologi budidaya dan usaha tani seperti PHT, pemupukan berimbang, pertanian organik harus mempertimbangkan iklim (Untung, 1997)
Pengaruh
Iklim terhadap Hama dan Penyakit Tumbuhan
Hama seperti mahluk hidup
lainnya, perkembangannya dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim baik langsung
maupun tidak langsung. Temperatur, kelembaban udara relatif dan
fotoperiodisitas berpengaruh langsung terhadap siklus hidup, keperidian, lama
hidup serta kemampuan diapause serangga. Pengaruh tidak langsung adalah
pengaruh faktor iklim terhadap vigor dan fisiologi tanaman inang, yang akhirnya
mempengaruhi ketahanan tanaman terhadap hama. Temperatur berpengaruh terhadap
sintesis senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, falvonoid yang
berpengaruh terhadap ketahanannya terhadap hama (Wiyono, 2007). Pengaruh tidak
langsung lainnya berkaitan dengan keberadaan musuh alami hama baik predator,
parasitoid dan patogen. Populasi dan intensitas serangan OPT akan menjadi lebih
tinggi pada musim kemarau akibat tingkat parasitasi dan tingkat infeksi patogen
(entomopatogen) yang rendah.
Perkembangan penyakit
tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor iklim. Pengaruh faktor iklim terhadap
patogen bisa terhadap siklus hidup patogen, virulensi (daya infeksi),
penularan, dan reproduksi patogen. Pengaruh. Garret et al. (2006)
menyatakan bahwa perubahan iklim berpengaruh terhadap penyakit melalui
pengaruhnya pada tingkat genom, seluler, proses fisiologi tanaman dan patogen.
Semakin tinggi kelembaban maka akan semakin meningkatkan efektifitas infeksi
cendawan. Begitu pula pada musim hujan, bakteri akan lebih mudah penyebarannya
melalui percikan air dan bantuan angin.
Pemanfaatan Informasi Prakiraan Iklim dan
Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
Pemanfaatan prakiraan musim dalam sektor pertanian digunakan sebagai komponen yang
menentukan awal musim tanam, pengaturan pola tanam dan analisis pengurangan
resiko kehilangan hasil karena fenomena iklim. Program pemberdayaan petani
dalam mengantisipasi kejadian iklim ekstrim perlu dilaksanakan. Informasi iklim
dan teknologi yang relevan perlu dimasyarakatkan pada petani dan kelompok tani
melalui pendekatan partisipatif.
1. Kalender Tanam
Kalender tanam
merupakan penanggalan berupa jadwal acuan bagi petani dalam mengusahakan
tanaman selama satu musim berupa data-data penggabungan peta prakiraan iklim,
ketersediaan air dan
penggolongan tanam.
Kalender tanam
bertujuan untuk memandu petani dalam menyesuaikan waktu dan pola tanam. Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah menyusun peta kalender tanam. Peta
ini menggambarkan potensi pola tanam dan waktu tanam tanaman semusim, terutama
padi berdasarkan potensi dan dinamika sumber daya iklim dan air. Peta kalendar
tanam ini dapat menjadi panduan operasional baik bagi penyuluh pertanian maupun
petani dalam menjalankan usahataninya secara berkelanjutan.
Kalender tanam disusun berdasarkan kondisi pola tanam petani saat ini (eksisting), dan tiga skenario kejadian iklim, yaitu Tahun Basah (TB), Tahun Normal (TN) dan
Tahun Kering (TK) (Las, 2007). Peta kalender tanam akan dilengkapi dengan
prediksi iklim agar diketahui kejadian iklim yang akan datang sehingga
perencanaan tanam dapat disesuaikan dengan kondisi sumberdaya iklim dan air.
Berdasarkan
petunjuk dari kalender tanam petani akan mampu menentukan waktu tanam setiap
musim (musim hujan dan musim kemarau) dan menentukan pola dan rotasi tanaman
pada setiap areal berdasarkan potensi sumberdaya iklim dan air. Kalender tanam
juga akan dapat dimanfaatkan oleh
petani sebagai pedoman dalam menetapkan strategi penyiapan dan distribusi
sarana produksi serta perencanaan tanam khususnya untuk tanaman pangan guna
mengurangi resiko kerugian akibat pergeseran musim dan perubahan pola curah
hujan. Keunggulan penggunaan Kalender Iklim, yaitu :
1. Dinamis, karena disusun
berdasarkan beberapa kondisi iklim.
2. Operasional pada skala kecamatan.
3. Spesifik lokasi, karena
mempertimbangkan kondisi sumberdaya iklim dan air setempat.
4. Mudah diperbaharui (updatable)
5. Mudah dipahami oleh pengguna,
karena disusun secara spasial dan tabular dengan uraian yang jelas.
2.
Data
Curah Hujan
Data curah hujan dapat digunakan oleh petani dan masyarakat tani untuk
mempelajari kecenderungan arah perubahan iklim. Kecenderungan perubahan iklim
saat ini mengarah pada pergeseran waktu musim hujan yang juga berujung pada
bergeraknya hari awal kemarau. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan waktu
tanam tanaman khususnya tanaman semusim. Sesuai dengan informasi dari Badan
Meteorologi dan Geofisika (BMG) prakiraan permulaan Musim Kemarau
rata-rata selama 5 tahun terakhir mengalami pergeseran waktu yaitu berkisar
antara bulan Mei sampai dengan Juni. Begitupula denagan permulaan musim hujan,
juga akan mengalami pergeseran.
Di lain pihak, waktu
tanam biasanya telah menjadi sebuah kesepakatan ketetapan adat bagi sebuah
komunitas tertentu. Beberapa pengetahuan pribumi (indigenous knowledge)
yang didasari oleh pengaturan masa tanam seperti pranata mangsa dalam
masyarakat Jawa perlu dikaji kembali dan diperbaharui menghadapi perubahan yang
berlangsung. Sehingga dengan
munculnya pergeseran waktu tanam seperti ini akan menimbulkan kebingungan
kepada para pelaku tani di lapangan. Kelembagaan pertanian sangat dibutuhkan
dalam menghadapi masalah-masalah yang demikian.
3.
Data
Sebaran Hama dan Penyakit Tanaman
Data sebaran hama adalah data-data dalam bentuk
angka atau gambar yang menunjukkan jumlah populasi dan intensitas serangan
serta daerah sebaran hama dan penyakit dalam suatu wilayah. Sebaran dan
spesifikasi serangan hama dan penyakit suatu wilayah berbeda dengan wilayah
yang lainnya sehingga dalam pengelolaannya tidak dianjurkan menggunakan
persepsi yang sama.
Data sebaran hama dan penyakit dapat digunakan
sebagai acuan dalam menentukan pola tanam sebagai langkah antisipasi serangan
hama dan penyakit tanaman termasuk menentukan varietas yang tepat, jarak tanam
dan teknik pengendalian yang akan digunakan. Dengan menggunakan data sebaran
hama menjadi referensi, diharapkan serangan hama dan penyakit dalam suatu
wilayah pertanaman dapat dikelola dengan baik sehingga meningkatkan
produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani. Data sebaran hama dan
penyakit dapat diperoleh dari petugas. Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman
(POPT) atau petugas pertanian yang ada di lapangan.
4. Ekologi dan Biologi Hama dan Penyakit Tanaman
Pengaruh faktor iklim terhadap OPT
bisa terhadap siklus hidup patogen, virulensi (daya infeksi), penularan dan
reproduksi patogen serta musuh alami. Kondisi yang ekstrim akibat perubahan iklim yang signifikan akan menimbulkan kerusakan hasil
yang dapat berdampak pada kerugian ekonomi. Hal ini dapat diminimalisir dengan
kegiatan peramalan OPT yang mungkin akan menyerang suatu jenis tanaman
tertentu.
Dalam kegiatan peramalan OPT ini, dibutuhkan pemahaman yang mendalam
tentang sifat-sifat suatu OPT, khususnya sifat-sifat biologi dan ekologinya.
Dengan mempelajari sifat biologi suatu OPT, akan diketahui bagaimana sistem
perkembangbiakannya dan kemampuannya bertahan hidup. Dengan memahami sifat
ekologi OPT, akan lebih mudah mendeteksi kemunculan dan masa-masa aktif suatu
OPT dalam menimbulkan kerusakan pada tanaman. Di samping itu, kegiatan
peramalan OPT ini juga membutuhkan pengetahuan yang memadai tentang kondisi
iklim dan cuaca yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman, tetapi merugikan
bagi perkembangan OPT sehingga musim tanam bisa dimulai pada kondisi dimana
tanaman mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan biotik dan abiotik selama
perkembangannya.
Sampai saat ini
pemanfaatan informasi prakiraan iklim dan informasi tentang organisme
pengganggu tanaman (OPT) masih rendah terutama oleh petani sehingga terkadang
menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak kecil. Beberapa faktor yang menyebabkan
adalah :
1. Manajemen
kelembagaan di tingkat petani belum memadai
2. Sistem
diseminasi informasi belum efektif
3. Rendahnya
kemampuan pengguna dalam menerjemahkan hasil prakiraan iklim dan peramalan OPT
4. Prakiraan
mengandung unsur kesalahan sehingga tidak selalu tepat
5. Pengguna
belum memahami bahwa informasi iklim dan populasi OPT memiliki nilai ekonomi
6. Teknologi
pemanfaatan informasi untuk pertanian khususnya pemanfaatan teknologi
Pengendalian Hama berwawasan lingkungan masih belum berkembang di tingkat on
farm dan off farm.
7. Akselerasi
petugas lapangan pertanian yang tidak maksimal sebagai konektor teknologi
pertanian kepada petani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar