Selasa, 28 Agustus 2012

Pemanfaatan Informasi dalam Antisipasi Serangan OPT terhadap Anomali Iklim


Komoditi pertanian diusahakan dengan penuh keyakinan tinggi untuk menghadapi, menerima dan meminimalisir resiko. Ini disebabkan karena komoditi pertanian memiliki keterkaitan siklus biologi dan ekologi yang saling bermutualisme. Ketika salah satu komponen tidak memenuhi syarat, maka resiko akan muncul dan membutuhkan upaya serius dalam pemulihan dan yang paling utama adalah akan merusak semangat tani sebagian orang yang berkecimpung di dalamnya.
Organisme pengganggu tanaman (OPT) merupakan elemen pembatas produksi tanaman yang secara garis besar dibagi menjadi tiga yaitu hama, penyakit dan gulma. Hama dan Penyakit menimbulkan gangguan tanaman secara fisik dan gangguan fisiologis pada tanaman, sedangkan gulma berkaitan dengan persaingan dalam memperoleh nutrisi hara dari dalam tanah. Perkembangan hama dan penyakit sangat dipengaruhi oleh dinamika faktor iklim. Sehingga tidak heran kalau pada musim hujan dunia pertanian banyak disibukkan oleh masalah penyakit tanaman, sedangkan pada musim kemarau banyak masalah hama.
Iklim adalah sumber daya vital yang diperlukan bagi kegiatan pertanian dan merupakan faktor penentu produktivitas dan kualitas hasil terutama bila iklim sesuai dengan yang
diperlukan oleh kegiatan pertanian. Sebaliknya, kondi
si iklim yang tidak sesuai dapat menjadi kendala dan ancaman bagi kegiatan pertanian yang mengakibatkan instabilitas dan kegagalan produksi pertanian. Secara langsung iklim menentukan produksi dan pertumbuhan tanaman melalui penyediaan curah hujan, air dan unsur-unsur iklim yang lainnya seperti suhu, kelembaban dan radiasi. Kondisi iklim akan menentukan jenis tanaman yang akan dibudidayakan, varietas, pola tanam, areal tanam, musim tanam serta efisiensi produksi dalam memanfaatkan unsur-unsur iklim. Secara tidak langsung, iklim dapat menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja faktor-faktor produksi lainnya termasuk penggunaan berbagai input produksi seperti pupuk buatan, sumber daya lahan dan air serta kestabilan ekosistem. Iklim mempengaruhi intensitas dan luas serangan OPT dan juga keberhasilan upaya pengendaliannya. Aplikasi dan pengembangan teknologi budidaya dan usaha tani seperti PHT, pemupukan berimbang, pertanian organik harus mempertimbangkan iklim (Untung, 1997)

Pengaruh Iklim terhadap Hama dan Penyakit Tumbuhan
Hama seperti mahluk hidup lainnya, perkembangannya dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim baik langsung maupun tidak langsung. Temperatur, kelembaban udara relatif dan fotoperiodisitas berpengaruh langsung terhadap siklus hidup, keperidian, lama hidup serta kemampuan diapause serangga. Pengaruh tidak langsung adalah pengaruh faktor iklim terhadap vigor dan fisiologi tanaman inang, yang akhirnya mempengaruhi ketahanan tanaman terhadap hama. Temperatur berpengaruh terhadap sintesis senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, falvonoid yang berpengaruh terhadap ketahanannya terhadap hama (Wiyono, 2007). Pengaruh tidak langsung lainnya berkaitan dengan keberadaan musuh alami hama baik predator, parasitoid dan patogen. Populasi dan intensitas serangan OPT akan menjadi lebih tinggi pada musim kemarau akibat tingkat parasitasi dan tingkat infeksi patogen (entomopatogen) yang rendah.
Perkembangan penyakit tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor iklim. Pengaruh faktor iklim terhadap patogen bisa terhadap siklus hidup patogen, virulensi (daya infeksi), penularan, dan reproduksi patogen. Pengaruh. Garret et al. (2006) menyatakan bahwa perubahan iklim berpengaruh terhadap penyakit melalui pengaruhnya pada tingkat genom, seluler, proses fisiologi tanaman dan patogen. Semakin tinggi kelembaban maka akan semakin meningkatkan efektifitas infeksi cendawan. Begitu pula pada musim hujan, bakteri akan lebih mudah penyebarannya melalui percikan air dan bantuan angin.

Pemanfaatan Informasi Prakiraan Iklim dan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Pemanfaatan prakiraan musim dalam sektor pertanian digunakan sebagai komponen yang menentukan awal musim tanam, pengaturan pola tanam dan analisis pengurangan resiko kehilangan hasil karena fenomena iklim. Program pemberdayaan petani dalam mengantisipasi kejadian iklim ekstrim perlu dilaksanakan. Informasi iklim dan teknologi yang relevan perlu dimasyarakatkan pada petani dan kelompok tani melalui pendekatan partisipatif.
1.     Kalender Tanam
Kalender tanam merupakan penanggalan berupa jadwal acuan bagi petani dalam mengusahakan tanaman selama satu musim berupa data-data penggabungan peta prakiraan iklim, ketersediaan  air  dan  penggolongan  tanam.
Kalender tanam bertujuan untuk memandu petani dalam menyesuaikan waktu dan pola tanam. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah menyusun peta kalender tanam. Peta ini menggambarkan potensi pola tanam dan waktu tanam tanaman semusim, terutama padi berdasarkan potensi dan dinamika sumber daya iklim dan air. Peta kalendar tanam ini dapat menjadi panduan operasional baik bagi penyuluh pertanian maupun petani dalam menjalankan usahataninya secara berkelanjutan.
Kalender tanam disusun berdasarkan kondisi pola tanam petani saat ini (eksisting), dan tiga skenario kejadian iklim, yaitu Tahun Basah (TB), Tahun Normal (TN) dan Tahun Kering (TK) (Las, 2007). Peta kalender tanam akan dilengkapi dengan prediksi iklim agar diketahui kejadian iklim yang akan datang sehingga perencanaan tanam dapat disesuaikan dengan kondisi sumberdaya iklim dan air.
Berdasarkan petunjuk dari kalender tanam petani akan mampu menentukan waktu tanam setiap musim (musim hujan dan musim kemarau) dan menentukan pola dan rotasi tanaman pada setiap areal berdasarkan potensi sumberdaya iklim dan air. Kalender tanam juga akan dapat dimanfaatkan oleh petani sebagai pedoman dalam menetapkan strategi penyiapan dan distribusi sarana produksi serta perencanaan tanam khususnya untuk tanaman pangan guna mengurangi resiko kerugian akibat pergeseran musim dan perubahan pola curah hujan. Keunggulan penggunaan Kalender Iklim, yaitu :
1.    Dinamis, karena disusun berdasarkan beberapa kondisi iklim.
2.    Operasional pada skala kecamatan.
3. Spesifik lokasi, karena mempertimbangkan kondisi sumberdaya iklim dan air setempat.
4.    Mudah diperbaharui (updatable)
5.  Mudah dipahami oleh pengguna, karena disusun secara spasial dan tabular dengan uraian yang jelas.

2.      Data Curah Hujan
Data curah hujan dapat digunakan oleh petani dan masyarakat tani untuk mempelajari kecenderungan arah perubahan iklim. Kecenderungan perubahan iklim saat ini mengarah pada pergeseran waktu musim hujan yang juga berujung pada bergeraknya hari awal kemarau. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan waktu tanam tanaman khususnya tanaman semusim. Sesuai dengan informasi dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) prakiraan permulaan Musim Kemarau rata-rata selama 5 tahun terakhir mengalami pergeseran waktu yaitu berkisar antara bulan Mei sampai dengan Juni. Begitupula denagan permulaan musim hujan, juga akan mengalami pergeseran.
Di lain pihak, waktu tanam biasanya telah menjadi sebuah kesepakatan ketetapan adat bagi sebuah komunitas tertentu. Beberapa pengetahuan pribumi (indigenous knowledge) yang didasari oleh pengaturan masa tanam seperti pranata mangsa dalam masyarakat Jawa perlu dikaji kembali dan diperbaharui menghadapi perubahan yang berlangsung. Sehingga dengan munculnya pergeseran waktu tanam seperti ini akan menimbulkan kebingungan kepada para pelaku tani di lapangan. Kelembagaan pertanian sangat dibutuhkan dalam menghadapi masalah-masalah yang demikian.

3.      Data Sebaran Hama dan Penyakit Tanaman
Data sebaran hama adalah data-data dalam bentuk angka atau gambar yang menunjukkan jumlah populasi dan intensitas serangan serta daerah sebaran hama dan penyakit dalam suatu wilayah. Sebaran dan spesifikasi serangan hama dan penyakit suatu wilayah berbeda dengan wilayah yang lainnya sehingga dalam pengelolaannya tidak dianjurkan menggunakan persepsi yang sama.
Data sebaran hama dan penyakit dapat digunakan sebagai acuan dalam menentukan pola tanam sebagai langkah antisipasi serangan hama dan penyakit tanaman termasuk menentukan varietas yang tepat, jarak tanam dan teknik pengendalian yang akan digunakan. Dengan menggunakan data sebaran hama menjadi referensi, diharapkan serangan hama dan penyakit dalam suatu wilayah pertanaman dapat dikelola dengan baik sehingga meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani. Data sebaran hama dan penyakit dapat diperoleh dari petugas. Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) atau petugas pertanian yang ada di lapangan.

4.  Ekologi dan Biologi Hama dan Penyakit Tanaman
Pengaruh faktor iklim terhadap OPT bisa terhadap siklus hidup patogen, virulensi (daya infeksi), penularan dan reproduksi patogen serta musuh alami. Kondisi yang ekstrim akibat perubahan iklim yang signifikan akan menimbulkan kerusakan hasil yang dapat berdampak pada kerugian ekonomi. Hal ini dapat diminimalisir dengan kegiatan peramalan OPT yang mungkin akan menyerang suatu jenis tanaman tertentu.
Dalam kegiatan peramalan OPT ini, dibutuhkan pemahaman yang mendalam tentang sifat-sifat suatu OPT, khususnya sifat-sifat biologi dan ekologinya. Dengan mempelajari sifat biologi suatu OPT, akan diketahui bagaimana sistem perkembangbiakannya dan kemampuannya bertahan hidup. Dengan memahami sifat ekologi OPT, akan lebih mudah mendeteksi kemunculan dan masa-masa aktif suatu OPT dalam menimbulkan kerusakan pada tanaman. Di samping itu, kegiatan peramalan OPT ini juga membutuhkan pengetahuan yang memadai tentang kondisi iklim dan cuaca yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman, tetapi merugikan bagi perkembangan OPT sehingga musim tanam bisa dimulai pada kondisi dimana tanaman mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan biotik dan abiotik selama perkembangannya.
Sampai saat ini pemanfaatan informasi prakiraan iklim dan informasi tentang organisme pengganggu tanaman (OPT) masih rendah terutama oleh petani sehingga terkadang menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak kecil. Beberapa faktor yang menyebabkan adalah :
1.  Manajemen kelembagaan di tingkat petani belum memadai
2.  Sistem diseminasi informasi belum efektif
3. Rendahnya kemampuan pengguna dalam menerjemahkan hasil prakiraan iklim dan peramalan OPT
4.  Prakiraan mengandung unsur kesalahan sehingga tidak selalu tepat
5. Pengguna belum memahami bahwa informasi iklim dan populasi OPT memiliki nilai ekonomi
6. Teknologi pemanfaatan informasi untuk pertanian khususnya pemanfaatan teknologi Pengendalian Hama berwawasan lingkungan masih belum berkembang di tingkat on farm dan off farm. 
7.  Akselerasi petugas lapangan pertanian yang tidak maksimal sebagai konektor teknologi pertanian kepada petani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar