AGRIBISNIS DENGAN PENANGKARAN BENIH JAGUNG
Pembangunan pertanian dewasa ini terlihat menunjukkan adanya pengembangan
dan peningkatan baik dari sisi pola usaha dan peningkatan produksi. Peningkatan
ini ditandai dengan adanya swasembada pangan khususnya padi dan jagung yang
mampu membangun citra negara agraris dan
meningkatnya martabat negeri ini. Peningkatan produksi yang dicapai kurang
diikuti oleh peningkatan pendapatan dan kesejahteraan para pelaku usaha tani di
tingkat lapangan. Keadaan ini menjadi permasalahan yang sangat krusial untuk
dapat ditangani dan diatasi secara baik oleh pemerintah ini. Dari hasil
pengamatan dan pendapat dari para pembina dan pelaku, masalah ini tidak lepas
dari kurang siapnya peran kelompok tani maupun pemuda tani melaksanakan
kegiatan pendukung sektor on-farm di tingkat lapangan. Olehnya itu perlu adanya
tindakan secara berkesinambungan bagaimana membangun para pelaku di tingkat
kelompok dengan memberikan kemampuan untuk membangun dan memerankan
organisasinya dalam pembangunan pertanian di wilayahnya.
Peningkatan
produksi petani selayaknya dibarengi dengan
perlakuan-perlakuan hasil yang dikelola melalui pintu agribisnis. Pengetahuan
dan keterampilan dalam mengelola diri melalui agribisnis disinyalir akan ikut
menambah pendapatan dan kesejahteraan petani. Namun demikian, ketertarikan
antara pelaku sistem agribisnis masih relatif lemah. Hal ini terjadi karena
kurangnya penguasaan pasar, sehingga sering terjadi distorsi pasar yang
menyebabkan harga produk pertanian sering berfluktuasi.
Pembangunan pertanian saat ini diarahkan untuk mencapai 4 (empat) target
sukses pertanian, yaitu swasembada (kedelai, gula industri, daging sapi) dan swasembada berkelanjutan (padi,
jagung), diversifikasi pangan, peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor
dan meningkatkan kesejahteraan petani. Sukses swasembada, diversifikasi pangan
dan peningkatan daya saing merupakan tujuan/target rasional yang dapat
direalisasikan melalui peningkatan pengetahuan agribisnis jagung. Program ini
menuntut dan membutuhkan sumberdaya manusia yang memadai dalam menangani dan
merealisasikan target sukses tersebut. Tanaman jagung merupakan salah satu
tanaman pangan yang banyak diusahakan oleh petani di Indonesia. Dalam
pelaksanaannya pun petani terbilang sukses dalam budidaya dengan tercapainya
swasembada jagung. Namun dalam aspek agribisnis, petani masih terkendala dalam
pengembangannya dalam rangka meningkatkan pendapatan.
Penggunaan varietas unggul dan benih bermutu merupakan salah satu komponen
teknologi yang dianjurkan dalam sistem budidaya tanaman jagung. Benih bermutu
berasal dari tanaman yang berkualitas dengan perlakuan yang juga berbeda dengan
sistem budidaya tanaman untuk tujuan konsumsi. Penangkaran benih jagung
merupakan salah satu usaha dari aspek budidaya tanaman jagung yang dapat
dimanfaatkan oleh petani untuk menerapkan sistem agribisnis dalam rangka
peningkatan pendapatan.
Penerapan Teknologi
Budidaya Benih Jagung Komposit
Budidaya tanaman jagung untuk tujuan benih menjadi hal penting jika
dibandingkan dengan pengusahaan tanaman jagung untuk tujuan konsumsi. Dalam
pelaksanaannya membutuhkan kesabaran dan ketelitian utamanya dalam penentuan
dan penyiapan lahan (tanah), air dan tanaman.
Penyiapan Lahan (Tanah)
Lahan yang akan digunakan diolah terlebih dahulu dengan menggunakan rotary-traktor-rotary
(sesuai dengan keliatan tanah) sampai tanah telihat gembur tanpa bongkahan. Ini
dilakukan untuk menghilangkan sisa-sisa tanaman sebelumnya dan memudahkan dalam
penanaman nantinya. Dalam pengolahan tanah juga dilakukan pemupukan dengan
menggunakan pupuk kompos (limbah-limbah tanaman) untuk memenuhi kebutuhan unsur
hara pada tanah. Selanjutnya, dilakukan pembuatan bedengan (sepanjang lahan)
dengan ukuran masing-masing 100cm dengan tinggi 10-20cm. Parit untuk pengairan juga
terbentuk pada proses ini, sehingga diharapkan jarak tanam yaitu 75 x 20cm.
Penyiapan Benih
Penyiapan benih menjadi penting karena harus mempertimbangkan jumlah induk
tanaman jantan dan induk tanaman betina yaitu ¼ bagian untuk induk jantan dan ¾
bagian untuk induk betina. Jika kebutuhan benih induk tanaman 20 kg benih/ha
maka jumlah induk jantan yang dibutuhkan adalah 5 kg induk jantan dan 15 kg
induk betina yang ditanam dengan perbandingan penanaman di lapangan 1:3.
Perlakuan benih dengan fungisida patut dilakukan untuk mencegah penyakit tanaman
(gejala laten).
Penanaman
Secara umum pelaksanaan penanaman dilaksanakan seperti biasa. Yaitu dimulai
dengan pembuatan lubang tanam dengan menggunakan alat tanam (tugal) dengan
kedalaman 5 cm. Selanjutnya benih ditanam 1 benih / lubang (tergantung jarak
tanam), kemudian lubang ditutup dengan tanah atau pupuk kompos secara ringan.
Untuk keperluan kerapihan, sebaiknya menggunakan tali yang telah disimpul
sesuai dengan jarak tanam yang dibutuhkan (75 X 20 cm untuk 1 tanaman /
lubang). Yang perlu diperhatikan adalah penanaman benih jantan dan benih
betina. Dengan menggunakan perbandingan 1:3 berarti dengan penanaman 1 baris
induk jantan dilanjutkan dengan 3 baris induk betina. Pola dan jarak tetap
dipertahankan sesuai dengan kebutuhan dan luas lahan.
Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman dilakukan sesuai dengan kondisi pertanaman dan umur
tanaman. Pembersihan gulma yang diikuti dengan pembumbunan pada tanaman dilakukan
ketika jumlah populasi gulma di lapangan banyak (sekitar 15-20 HST) dan
diperkirakan akan mengganggu pertumbuhan tanaman. Pelaksanaan pemupukan
dilakukan berdasarkan umur tanaman. Menurut Zubachtirodin, bahwa pemupukan
tanaman dilakukan pada umur-umur tertentu, yaitu :
JENIS PUPUK
|
UMUR TANAMAN
|
||
7-10 HARI
|
25-30 HARI
|
40-45 HARI
|
|
UREA (350 kg)
|
30 %
|
70 %
|
Sesuai BWD
|
SP36 (200 kg)
|
100 %
|
-
|
-
|
KCL (100 kg)
|
50 %
|
50 %
|
-
|
ZA (50 kg)
|
100 %
|
-
|
-
|
Terkhusus untuk produksi benih jagung komposit, hal yang paling
diperhatikan dalam pemeliharaan yaitu :
1.
Penyulaman benih tidak
dilakukan ketika ditemukan tanaman yang mati.
Hal ini dilakukan agar
kondisi pertanaman tumbuh seragam, terutama untuk keseragaman terjadinya pembungaan.
Juga untuk mencegah ketidaksempurnaan biji pada tongkol.
2.
Pemotongan bunga jantan
dilakukan pada tanaman betina sebelum malai keluar.
Panen
Panen dilakukan setelah kelobot telah mengering dan berwarna putih kecokelatan,
biji telah mengeras (tidak meninggalkan bekas saat ditekan menggunakan kuku) dan
terbentuk lapisan black layer pada biji. Saat tanaman telah masak fisiologis
(kadar air 40 - 45%), kelobot dikupas dan tajuk bagian atas dipangkas (untuk
pakan ternak). Ini dilakukan untuk mempercepat proses pengeringan biji sampai
kadar air mencapai kira-kira 30%. Setelah beberapa hari, dilakukan pemetikan.
Pemetikan dilakukan pada siang hari sehingga kadar air tidak menurun.
Penanganan Pasca Panen
Setelah panen, dilakukan seleksi dan pemilahan terhadap tongkol yang baik
dan tongkol yang rusak. Selanjutnya dilakukan pengeringan pada lantai jemur di
bawah sinar matahari dengan menggunakan alas terpal yang berwarna terang. Selanjutnya
dilakukan pemipilan biji dengan menggunakan mesin pengayak atau ayakan
tradisional dengan diameter 7 mm. Biji yang tidak lolos ayakan akan dijadikan
benih. Setelah biji untuk produkssi benih ditemukan, selanjutnya dilakukan
pengemasan dan penyimpanan. Dalam hal pengemasan, diusahakan untuk menggunakan
plastic kemasan yang tidak mudah rusak. Menurut Adnan, plastik kemasan yang
baik untuk benih yaitu dengan ukuran 2 mm. Selanjutnya dalam penyimpanan,
diusahakan untuk menggunakan alas papan setinggi 15 cm untuk menjaga sirkulasi
udara.
Lahan tanam harus memiliki unsur-unsur yang dipersyaratkan selayaknya
pelaksanaan budidaya tanaman jagung yaitu potential of hydrogen (pH) tanah
antara 5,5 – 7,0 dan jenisnya lempung berpasir. Air tersedia cukup dan benih
tanaman yang akan dibudidayakan harus berasal dari Benih yang berkualitas.
Karena itulah diperlukan pembinaan usaha pertanian melalui pengetahuan dan
keterampilan agribisnis terkhusus untuk penangkaran benih jagung agar pelaku
usaha tani dapat tumbuh dan berkembang sehingga dapat meningkatkan pendapatan
dan kesejahteraan petani. Peran inilah yang perlu dimaksimalkan oleh Lembaga
Pelatihan Pertanian dalam mengisi dan menyempurnakan diskrepansi pengetahuan serta
meningkatkan kompetensi agribisnis pelaku usaha tani tanaman jagung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar