Pemuda
Indonesia, engkau pahlawan dalam hatiku. Demikian ungkapan bung hatta dalam
satu pidatonya yang terkenal bertajuk Fajar menyingsing. Di depan massa dalam
pembukaan rapat besar di Lapangan Ikada, Jakarta Tanggal 11 September 1944,
secara khusus Bung Hatta menyoroti betapa peran pemuda sebagai harapan Bangsa.
“Saya percaya akan kebulatan hati pemuda Indonesia, yang percaya akan
kesanggupannya berjuang dan menderita (Kompas, 2009).
Sesaat
setelah melihat kembali tulisan ini dalam sebuah harian di Makassar (meskipun
telah usang sebagai pembungkus kain), gemuruh semangat muda kembali memuncak. Sulit
kembali menemukan sosok penyemangat sepertinya. Ada kekhasan dalam susunan kalimatnya.
Terdapat ide dan makna yang pantas untuk diinterpretasikan dan
diimplementasikan menjadi sebuah gerakan perubahan oleh generasi muda dimasa
sekarang ini.
Generasi
muda tidak hanya diklasifikasikan sebagai lapisan masyarakat yang berusia muda,
tetapi lebih jauh dari itu pemuda selalu
digambarkan sebagai sebuah generasi yang diisi oleh sosok-sosok yang
penuh idealisme, berani berkorban, berani menderita dan menjadi pelopor setiap
perubahan sosial ataupun politik untuk kepentingan Bangsa. Lebih jauh lagi,
mampu mencari dan menemukan serta menerima dan memunculkan solusi atas segala
masalah yang dihadapi (Kompas, 2009).
Demikian
pula halnya dengan pemuda-pemuda yang memiliki potensi Sumber Daya Pertanian
termasuk di dalamnya Peternakan, Perikanan, Tanaman Pangan, Perkebunan dsb.
Idealisme dan sikap perubahan ini tetap menjadi kebutuhan dan patut untuk
dijaga dan ditumbuh kembangkan melalui sebuah metode sistematis, komperehensif
dan berkelanjutan. Seketika pikiranku kembali mengingat pengalaman mendampingi
petani muda calon magang Jepang. Sekumpulan pemuda dan pemudi yang setiap hari
menunjukkan semangat kerja, semangat belajar demi sebuah tiket magang di Jepang.
Pelatihan
orientasi magang jepang yang dilaksanakan di Balai Besar Pelatihan Pertanian
Batangkaluku Sulawesi Selatan merupakan program nasional bagi pemuda tani
indonesia untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan berusaha tani yang
diwujudkan melalui kegiatan permagangan di Jepang.
Dalam
pelaksanaannya, pelatihan ini dilakukan dengan bekerjasama dengan Ikatan Alumni
Magang Jepang (IKAMAJA) Sulawesi Selatan. Sebagai komunitas petani muda yang
pernah merasakan gambaran pelaksanaan praktek usaha tani di Jepang, IKAMAJA berperan
penting dalam menjaga dan mengawal kesuksesan kegiatan ini. Maka dari itu, BBPP
Batangkaluku melibatkan IKAMAJA Sulsel untuk ikut berpartisipasi aktif mensukseskan
pelatihan ini. Kesuksesan yang dimaksud tetap mengarah pada tujuan umum
pelaksanaan magang petani muda Indonesia ke Jepang yaitu (1) meningkatkan pengetahuan,
keterampilan, sikap dan mental pemagang dalam mengelola usaha pertanian yang
berorientasi agribisnis, (2) Meningkatkan kemampuan teknis dan manajerial
pemagang dalam mengelola agribisnis sesuai dengan komoditinya dan (3) menumbuhkembangkan
etos kerja bagi pemagang dan lingkungan usahanya.
IKAMAJA
menjadi aktor penting dalam pelaksanaan kegiatan ini. Mereka terlibat langsung
dalam pelaksanaan pemberian materi kepada peserta magang terutama dalam
pengenalan bahasa jepang dan budaya jepang. Bahkan, dalam pelaksanaan praktek
di lapangan pun dilaksanakan di tempat salah satu Alumni Magang Jepang yang
telah berhasil menerapkan usaha tani dan manajemen agribisnis di wilayahnya
masing-masing (Baidarus, Kab. Maros dan Aksan, Kab. Barru). Pengetahuan dan pengalaman
anggota IKAMAJA selama masih aktif mengikuti magang di Jepang menjadi modal
utama untuk calon peserta magang sebagai pengetahuan awal dan gambaran secara
umum aktivitas magang di Jepang.
Dalam
perjalanannya, peserta magang diarahkan untuk mengerti dan memahami bahasa
jepang termasuk tata bahasa jepang, cara penulisan, percakapan sehari-hari;
pemahaman terhadap budaya jepang, mekanisasi pertanian, praktek usaha tani
serta semua kemungkinan-kemungkinan yang terjadi selama pelaksanaan magang di
Jepang yang secara nyata memiliki perbedaan dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada
di daerah masing-masing. Pemahaman ini penting untuk melatih dan memperkenalkan
secara dini kepada peserta magang mengenai kehidupan di Jepang.
Sebagai
wujud dari komitmen BBPP dan IKAMAJA dalam pelatihan ini maka dalam rangka
menghasilkan pemuda tani Indonesia yang siap secara fisik dan mental melakukan
magang di Jepang maka dilakukan praktek kerja lapang. Praktek kerja lapang
dilakukan di lokasi salah satu alumni magang jepang yang juga merupakan anggota
IKAMAJA Sulsel. Praktek lapang ini dilaksanakan dengan merekayasa sebuah
kondisi layaknya kondisi, budaya, bahasa dan kegiatan rutin yang ada di Jepang.
Sebuah kondisi yang diciptakan untuk mendukung pemahaman peserta dalam
mempelajari dan mengalami secara langsung kebiasaan-kebiasaan di Jepang. Ini
dimaksudkan sebagai pra-kondisi permagangan di Jepang sehingga ketika tiba di
Jepang, semua peserta magang menjadi terbiasa dan paham akan tugas dan
tanggungjawabnya.
Dengan
mengkomparasikan keadaan, disiplin dan etos kerja masyarakat pertanian di Jepang
dengan masyarakat pertanian di Indonesia, setidaknya akan membuka mata dan
memperluas khasanah pemikiran dari peserta magang akan kekurangan dan kelebihan
Indonesia dalam penerapan ilmu pertanian termasuk pengejawantahan kebijakan,
budidaya, pemasaran serta manajemen manajerial dalam agribisnis termasuk up-stream
agribisnis, on-farm agribisnis dan down-stream agribisnis.
Dengan
kondisi demikian di harapkan mampu menghasilkan pemuda-pemuda yang mampu
menyerap ilmu dan teknologi terapan bidang pertanian di Jepang sehingga ketika
kembali di Indonesia akan mampu menghasilkan sebuah pengalaman, keterampilan
dan pengetahuan dalam rangka mengembangkan diri dan masyarakat di sekitarnya
khususnya di bidang pertanian. Pertanian Indonesia akan ditentukan oleh salah
satu di antara mereka...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar