Senin, 22 April 2013

HARAPAN BESAR KEPADA PETANI MUDA / PEMUDA TANI



Pemuda Indonesia, engkau pahlawan dalam hatiku. Demikian ungkapan bung hatta dalam satu pidatonya yang terkenal bertajuk Fajar menyingsing. Di depan massa dalam pembukaan rapat besar di Lapangan Ikada, Jakarta Tanggal 11 September 1944, secara khusus Bung Hatta menyoroti betapa peran pemuda sebagai harapan Bangsa. “Saya percaya akan kebulatan hati pemuda Indonesia, yang percaya akan kesanggupannya berjuang dan menderita (Kompas, 2009).
Sesaat setelah melihat kembali tulisan ini dalam sebuah harian di Makassar (meskipun telah usang sebagai pembungkus kain), gemuruh semangat muda kembali memuncak. Sulit kembali menemukan sosok penyemangat sepertinya. Ada kekhasan dalam susunan kalimatnya. Terdapat ide dan makna yang pantas untuk diinterpretasikan dan diimplementasikan menjadi sebuah gerakan perubahan oleh generasi muda dimasa sekarang ini.

Generasi muda tidak hanya diklasifikasikan sebagai lapisan masyarakat yang berusia muda, tetapi lebih jauh dari itu pemuda selalu  digambarkan sebagai sebuah generasi yang diisi oleh sosok-sosok yang penuh idealisme, berani berkorban, berani menderita dan menjadi pelopor setiap perubahan sosial ataupun politik untuk kepentingan Bangsa. Lebih jauh lagi, mampu mencari dan menemukan serta menerima dan memunculkan solusi atas segala masalah yang dihadapi (Kompas, 2009).
Demikian pula halnya dengan pemuda-pemuda yang memiliki potensi Sumber Daya Pertanian termasuk di dalamnya Peternakan, Perikanan, Tanaman Pangan, Perkebunan dsb. Idealisme dan sikap perubahan ini tetap menjadi kebutuhan dan patut untuk dijaga dan ditumbuh kembangkan melalui sebuah metode sistematis, komperehensif dan berkelanjutan. Seketika pikiranku kembali mengingat pengalaman mendampingi petani muda calon magang Jepang. Sekumpulan pemuda dan pemudi yang setiap hari menunjukkan semangat kerja, semangat belajar demi sebuah tiket magang di Jepang.
Pelatihan orientasi magang jepang yang dilaksanakan di Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku Sulawesi Selatan merupakan program nasional bagi pemuda tani indonesia untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan berusaha tani yang diwujudkan melalui kegiatan permagangan di Jepang.
Dalam pelaksanaannya, pelatihan ini dilakukan dengan bekerjasama dengan Ikatan Alumni Magang Jepang (IKAMAJA) Sulawesi Selatan. Sebagai komunitas petani muda yang pernah merasakan gambaran pelaksanaan praktek usaha tani di Jepang, IKAMAJA berperan penting dalam menjaga dan mengawal kesuksesan kegiatan ini. Maka dari itu, BBPP Batangkaluku melibatkan IKAMAJA Sulsel untuk ikut berpartisipasi aktif mensukseskan pelatihan ini. Kesuksesan yang dimaksud tetap mengarah pada tujuan umum pelaksanaan magang petani muda Indonesia ke Jepang yaitu (1) meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan mental pemagang dalam mengelola usaha pertanian yang berorientasi agribisnis, (2) Meningkatkan kemampuan teknis dan manajerial pemagang dalam mengelola agribisnis sesuai dengan komoditinya dan (3) menumbuhkembangkan etos kerja bagi pemagang dan lingkungan usahanya.
IKAMAJA menjadi aktor penting dalam pelaksanaan kegiatan ini. Mereka terlibat langsung dalam pelaksanaan pemberian materi kepada peserta magang terutama dalam pengenalan bahasa jepang dan budaya jepang. Bahkan, dalam pelaksanaan praktek di lapangan pun dilaksanakan di tempat salah satu Alumni Magang Jepang yang telah berhasil menerapkan usaha tani dan manajemen agribisnis di wilayahnya masing-masing (Baidarus, Kab. Maros dan Aksan, Kab. Barru). Pengetahuan dan pengalaman anggota IKAMAJA selama masih aktif mengikuti magang di Jepang menjadi modal utama untuk calon peserta magang sebagai pengetahuan awal dan gambaran secara umum aktivitas magang di Jepang.
Dalam perjalanannya, peserta magang diarahkan untuk mengerti dan memahami bahasa jepang termasuk tata bahasa jepang, cara penulisan, percakapan sehari-hari; pemahaman terhadap budaya jepang, mekanisasi pertanian, praktek usaha tani serta semua kemungkinan-kemungkinan yang terjadi selama pelaksanaan magang di Jepang yang secara nyata memiliki perbedaan dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada di daerah masing-masing. Pemahaman ini penting untuk melatih dan memperkenalkan secara dini kepada peserta magang mengenai kehidupan di Jepang.
Sebagai wujud dari komitmen BBPP dan IKAMAJA dalam pelatihan ini maka dalam rangka menghasilkan pemuda tani Indonesia yang siap secara fisik dan mental melakukan magang di Jepang maka dilakukan praktek kerja lapang. Praktek kerja lapang dilakukan di lokasi salah satu alumni magang jepang yang juga merupakan anggota IKAMAJA Sulsel. Praktek lapang ini dilaksanakan dengan merekayasa sebuah kondisi layaknya kondisi, budaya, bahasa dan kegiatan rutin yang ada di Jepang. Sebuah kondisi yang diciptakan untuk mendukung pemahaman peserta dalam mempelajari dan mengalami secara langsung kebiasaan-kebiasaan di Jepang. Ini dimaksudkan sebagai pra-kondisi permagangan di Jepang sehingga ketika tiba di Jepang, semua peserta magang menjadi terbiasa dan paham akan tugas dan tanggungjawabnya.
Dengan mengkomparasikan keadaan, disiplin dan etos kerja masyarakat pertanian di Jepang dengan masyarakat pertanian di Indonesia, setidaknya akan membuka mata dan memperluas khasanah pemikiran dari peserta magang akan kekurangan dan kelebihan Indonesia dalam penerapan ilmu pertanian termasuk pengejawantahan kebijakan, budidaya, pemasaran serta manajemen manajerial dalam agribisnis termasuk up-stream agribisnis, on-farm agribisnis dan down-stream agribisnis.
Dengan kondisi demikian di harapkan mampu menghasilkan pemuda-pemuda yang mampu menyerap ilmu dan teknologi terapan bidang pertanian di Jepang sehingga ketika kembali di Indonesia akan mampu menghasilkan sebuah pengalaman, keterampilan dan pengetahuan dalam rangka mengembangkan diri dan masyarakat di sekitarnya khususnya di bidang pertanian. Pertanian Indonesia akan ditentukan oleh salah satu di antara mereka...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar