Senin, 23 Juli 2012

Terpatrinya Beban di Pundak Calon Widyaiswara


TERPATRINYA BEBAN DI PUNDAK “CALON” WIDYAISWARA (PERTANIAN)
Widyaiswara adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diangkat sebagai pejabat fungsional oleh pejabat yang berwenang dengan tugas, tanggung jawab, wewenang untuk mendidik, mengajar, dan/atau melatih PNS pada Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pemerintah. Dari pengertian ini, dapat disimpulkan bahwa betapa besar peran dan posisi Widyaiswara sebagai tenaga fungsional yang mengajar, mendidik dan melatih  aparatur dan non aparatur. Dengan peran tersebut, Widyaiswara akan selalu bertanggung jawab secara moral terhadap pelaksanaan dan keberhasilan kerja orang yang diajar, tokoh yang dididik serta insan yang dilatih sehingga akan bermanfaat sebesar-besarnya bagi Negara tercinta dan sekalian alam. Betapa besar dan beratnya beban yang Negara titipkan di atas pundak Widyaiswara !!!...
Kita tentu tidak bisa membayangkan ketika Widyaiswara tidak bisa melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sebagaimana yang diharapkan atau tidak ada yang bisa memastikan dampaknya serta menjaminnya ketika jumlah Widyaiswara tidak sesuai dengan jumlah pesan teknologi yang akan disampaikan kepada objek teknologi. Betapa ilmu dan teknologi yang terbarukan berikut penerapannya hanya akan berada di atas langit terbang melayang dan akan hilang tertiup angin, sementara di permukaan tanah hanya bergerak stagnan dan membosankan yang tak terbarukan. Segala macam temuan teknologi yang hakekatnya akan dimanfaatkan hanya akan berada di atas kertas tanpa ada implementasi di lapangan. Di lain pihak masyarakat (yang butuh) sulit untuk berkembang akibat kurangnya informasi aktual dan konkrit sebagai petunjuk untuk bergerak tumbuh dan berkembang dari penyampai informasi.
Kementerian Pertanian dalam hal ini Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) yang jika lebih dikhususkan lagi pada Pusat Pelatihan Pertanian sedang dalam keadaan "panik" ketika mengingat tentang fakta bahwa keadaan Widyaiswara Pertanian yang semakin lama semakin berkurang kuantitasnya (bukan kualitasnya) seiring dengan semakin banyaknya Widyaiswara Pertanian yang memasuki masa pensiun (Purnabakti).
Fakta inilah yang menjadi dasar kegelisahan dan kepanikan dari petinggi dan pemegang kewenangan lingkup Kementerian Pertanian bahwa dibutuhkan generasi yang mampu melanjutkan segala sepak terjang, kerja keras, kerja nyata dan prestasi Widyaiswara. Yang terbaru, telah dihasilkan 59 orang calon widyaiswara yang telah dilatih (Insya Allah terlatih) untuk mengemban tugas dan amanah dalam rangka mempersiapkan dan mengembangkan diri sebagai pengabdi sekaligus frontman dalam transfer teknologi baik kepada penyuluh pertanian maupun petani sebagai objek pelaksanaan Diklat.
Calon widyaiswara (yang tertanggal 1 Juni 2012 telah menjadi Widyaiswara) diharapkan dapat memainkan perannya sebagai pelanjut / penerus / penyambung tongkat estafet / pembaharu (apapun namanya) tugas sebagai pendidik, pengajar sekaligus pelatih yang kompeten untuk meningkatkan pengetahuan, memperbaiki sikap dan meningkatkan keterampilan objek Diklat. Sungguh tugas yang tidak ringan dan penuh dengan tantangan. Untuk menjadi kompeten, tentunya dibutuhkan pemahaman terhadap metode pembelajaran, pemahaman mendalam terhadap substansi materi yang diajarkan serta memiliki penampilan yang meyakinkan. Teori dalam dunia pendidikan menyatakan bahwa persiapan dari segi substansi dan metode pengajar/pelatih selalu lebih besar dari objek yang akan dilatih sehingga dituntut etos kerja yang selalu haus akan pengetahuan dan pengembangan dirinya. Menurut Di Kamp dalam bukunya The Excellent Trainer bahwa setidaknya ada empat keyakinan yang melekat pada widyaiswara sehingga mereka menjadi hebat. Keyakinan ini merupakan konsep ataupun philosopihal guidelines yang menjadi dasar dalam menjalankan peran sebagai widyaiswawa. Pertama, mereka mempunyai keyakinan terhadap dirinya sendiri; kedua, keyakinan tentang pembelajar; ketiga, keyakinan tentang informasi yang muncul dalam kehidupannya dan; keempat, keyakinan tentang bagaimana dunia ini bekerja atau beroperasi (Salak, M. A., ……)
Apapun itu, calon widyaiswara yang dulu eksistensinya masih dibatasi dengan embelan melekatnya kata “calon”, wajib belajar dan berguru serta memanfaatkan hal-hal positif dari widyaiswara yang telah lebih dahulu menunjukkan kehebatannya.
Mari berkarya kawan-kawan…
Sedikit banyaknya, harapan telah terpatri di pundak kita…

Daftar Pustaka

Salak, M. A., …….. Menjadi Widyaiswara yang Hebat. Direktorat Pembinaan Widyaiswara LAN. http://www.ditbin-widyaiswara.or.id/artikel2.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar