TERPATRINYA BEBAN DI PUNDAK “CALON” WIDYAISWARA
(PERTANIAN)
Widyaiswara adalah
Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diangkat sebagai pejabat fungsional oleh
pejabat yang berwenang dengan tugas, tanggung jawab, wewenang untuk mendidik,
mengajar, dan/atau melatih PNS pada Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Diklat)
Pemerintah. Dari pengertian ini, dapat disimpulkan bahwa betapa besar peran dan
posisi Widyaiswara sebagai tenaga fungsional yang mengajar, mendidik dan
melatih aparatur dan non aparatur. Dengan peran tersebut, Widyaiswara
akan selalu bertanggung jawab secara moral terhadap pelaksanaan dan
keberhasilan kerja orang yang diajar, tokoh yang dididik serta insan yang
dilatih sehingga akan bermanfaat sebesar-besarnya bagi Negara tercinta dan
sekalian alam. Betapa besar dan beratnya beban yang Negara titipkan di atas
pundak Widyaiswara !!!...
Kita tentu tidak bisa membayangkan
ketika Widyaiswara tidak bisa melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya
sebagaimana yang diharapkan atau tidak ada yang bisa memastikan dampaknya serta
menjaminnya ketika
jumlah Widyaiswara tidak sesuai dengan jumlah pesan teknologi yang akan disampaikan
kepada objek teknologi. Betapa ilmu dan teknologi yang terbarukan berikut
penerapannya hanya akan berada di atas langit terbang melayang dan akan hilang
tertiup angin, sementara di permukaan tanah hanya bergerak stagnan dan
membosankan yang tak terbarukan. Segala macam temuan teknologi yang hakekatnya
akan dimanfaatkan hanya akan berada di atas kertas tanpa ada implementasi di
lapangan. Di lain pihak masyarakat (yang
butuh) sulit untuk berkembang akibat kurangnya informasi aktual
dan konkrit sebagai petunjuk untuk bergerak tumbuh dan berkembang dari
penyampai informasi.
Kementerian Pertanian dalam hal ini
Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) yang
jika lebih dikhususkan lagi pada Pusat Pelatihan Pertanian sedang dalam keadaan
"panik" ketika mengingat tentang fakta bahwa keadaan Widyaiswara
Pertanian yang semakin lama semakin berkurang kuantitasnya (bukan kualitasnya)
seiring dengan semakin banyaknya Widyaiswara Pertanian yang memasuki masa
pensiun (Purnabakti).
Fakta inilah yang menjadi dasar
kegelisahan dan kepanikan dari petinggi dan pemegang kewenangan lingkup
Kementerian Pertanian bahwa dibutuhkan generasi yang mampu melanjutkan segala
sepak terjang, kerja keras, kerja nyata dan prestasi Widyaiswara. Yang
terbaru, telah dihasilkan 59 orang calon widyaiswara yang telah dilatih (Insya
Allah terlatih) untuk mengemban tugas dan amanah dalam rangka mempersiapkan dan
mengembangkan diri sebagai pengabdi sekaligus frontman dalam transfer teknologi
baik kepada penyuluh pertanian maupun petani sebagai objek pelaksanaan Diklat.
Calon widyaiswara (yang tertanggal
1 Juni 2012 telah menjadi Widyaiswara) diharapkan dapat memainkan perannya
sebagai pelanjut / penerus / penyambung tongkat estafet / pembaharu (apapun
namanya) tugas sebagai pendidik, pengajar sekaligus pelatih yang kompeten untuk
meningkatkan pengetahuan, memperbaiki sikap dan meningkatkan keterampilan objek
Diklat. Sungguh tugas yang tidak ringan dan penuh dengan tantangan. Untuk
menjadi kompeten, tentunya dibutuhkan pemahaman terhadap metode pembelajaran,
pemahaman mendalam terhadap substansi materi yang diajarkan serta memiliki
penampilan yang meyakinkan. Teori dalam dunia pendidikan menyatakan bahwa persiapan
dari segi substansi dan metode pengajar/pelatih selalu lebih besar dari objek
yang akan dilatih sehingga dituntut etos kerja yang selalu haus akan
pengetahuan dan pengembangan dirinya. Menurut Di Kamp dalam bukunya The Excellent Trainer bahwa
setidaknya ada empat keyakinan yang melekat pada widyaiswara sehingga mereka
menjadi hebat. Keyakinan ini merupakan konsep ataupun philosopihal guidelines yang
menjadi dasar dalam menjalankan peran sebagai widyaiswawa. Pertama, mereka
mempunyai keyakinan terhadap dirinya sendiri; kedua, keyakinan tentang
pembelajar; ketiga, keyakinan tentang informasi yang muncul dalam kehidupannya
dan; keempat, keyakinan tentang bagaimana dunia ini bekerja atau beroperasi
(Salak, M. A., ……)
Apapun itu, calon widyaiswara yang
dulu eksistensinya masih dibatasi dengan embelan melekatnya kata “calon”, wajib
belajar dan berguru serta memanfaatkan hal-hal positif dari widyaiswara yang
telah lebih dahulu menunjukkan kehebatannya.
Mari berkarya
kawan-kawan…
Sedikit
banyaknya, harapan telah terpatri di pundak kita…
Daftar
Pustaka
Salak, M. A., …….. Menjadi Widyaiswara yang Hebat. Direktorat
Pembinaan Widyaiswara LAN. http://www.ditbin-widyaiswara.or.id/artikel2.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar