AUDIO-VISUAL SEBAGAI MEDIA
PEMBELAJARAN, TIDAK SULIT…!!!
Tulisan ini lahir dan terinspirasi dari pelaksanaan
Diklat Teknis Sejenis bagi
Widyaiswara Bidang Multimedia di PPMKP Ciawi-Bogor
Keberhasilan sebuah pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) ditentukan oleh beberapa hal yang salah satunya adalah kualitas pembelajaran. Upaya peningkatan mutu Diklat menjadi bagian terpadu dan tak terpisahkan dari upaya peningkatan kualitas manusia baik aspek kemampuan, kepribadian maupun tanggung jawab sebagai warga negara. Mutu dan efektifitas pelaksanaan Diklat sangat bergantung pada kualitas Widyaiswara dan pembelajarannya sehingga peningkatan metode, kualitas materi serta variasi media pembelajaran merupakan isu mendasar dan menjadi penting bagi peningkatan mutu dan efektifitas pelaksanaan Diklat.
Media pembelajaran secara umum
adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang
pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau keterampilan pebelajar
sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar. Media
audiovisual adalah media yang penyampaian pesannya dapat diterima oleh indera
pendengaran dan indera penglihatan, akan tetapi gambar yang dihasilkannya
adalah gambar diam atau sedikit memiliki unsur gerak. Batasan ini
cukup luas dan mendalam mencakup pengertian sumber, lingkungan, manusia dan metode yang
dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran/pelatihan. Tidak
mudah untuk memperoleh media pembelajaran yang tepat khususnya dalam
pelaksanaan Diklat. Substansi materi, kemampuan teknis pengoperasian serta
latar belakang pebelajar menjadi hal penting yang perlu diperhatikan dalam
pemilihan, penyusunan dan pembuatan media pembelajaran. Media pembelajaran yang
beraneka ragam jenisnya tentunya juga tidak akan serta merta harus menggiring
pemikiran kita untuk memilih salah satu diantaranya. Agar pemilihan media
pembelajaran tersebut tepat dan sesuai dengan objek Diklat, maka perlu
dipertimbangkan aspek-aspek dan kriteria dalam pemilihan media pembelajaran.
Kriteria yang perlu dipertimbangkan tenaga pengajar dalam memilih media
pembelajaran adalah 1) ketepatan media dengan tujuan pembelajaran; 2) dukungan
terhadap isi bahan ajar; 3) kemudahan memperoleh media; 4) keterampilan dalam
menggunakannya; 5) tersedia waktu untuk menggunakannya; dan 6) sesuai dengan
taraf berfikir objek belajar (Nana Sudjana 1990).
1.
2. Dukungan terhadap isi bahan ajar ; memilih media tentunya juga harus disesuaikan dengan isi bahan ajar. Tidak semua isi bahan ajar memerlukan media yang lengkap dan variatif. Terkadang isi bahan ajar hanya memerlukan media yang sederhana untuk terlihat elegan dan mencapai tujuan pembelajaran.
3. Kemudahan memperoleh media ; media bisa diperoleh dari siapa saja, di mana saja dan kapan saja. Widyaiswara lahir dengan potensi dan kesempatan luar biasa untuk mengakses setiap peluang termasuk akses internet yang ada dimana-mana (termasuk di UPT masing-masing).
4. Terampil dalam penggunaannya ; keterampilan menggunakan lebih ditentukan oleh keinginan dalam diri seseorang untuk mengembangkan dirinya baik melalui kursus maupun secara otodidak. Bahkan secara khusus dilaksanakan Diklat tentang Multimedia bagi Widyaiswara (sebuah solusi efektif dalam peningkatan keterampilan aplikasi media).
5. Tersedia waktu
untuk menggunakannya ; tersedia waktu saat penyusunan bahan ajar serta
tersedia waktu cukup untuk mengaplikasikannya sebagai bahan tayang dalam
bentuk tatap muka (proses belajar mengajar)
6. Sesuai dengan taraf pikir objek belajar ; dengan mengingat latar
belakang sosial, pendidikan dan daya serap peserta yang berbeda-beda, maka pengetahuan tentang objek belajar pun patut diidentifikasi sehingga pemilihan dan penggunaan media tidak mengurangi tujuan pembelajaran
Persepsi atas kriteria-kriteria terhadap pemilihan media tersebut didasarkan pada sikap dan prinsip yang penuh dengan optimisme tinggi khususnya dalam mendukung pelaksanaan kerja sebagai Widyaiswara. Begitupun ketika dihubungkan dengan penggunaan media pembelajaran dengan menggunakan audio-visual. Salah satu yang menjadi informasi penting yang diperoleh oleh penulis ketika mengikuti Diklat Teknis Sejenis bagi Widyaiswara Bidang Multimedia adalah ditayangkannya hasil penelitian tentang efektifitas pemahaman atau penerimaan peserta (terhitung setelah 3 hari mendapatkan informasi) berdasarkan indera yang digunakan, yaitu 10 % informasi yang dapat diingat jika hanya mendengar ; 20 % jika hanya melihat ; 40 % jika mendengar dan melihat ; serta 70 % jika mendengar, melihat dan mengerjakan. Ini menunjukkan bahwa betapa besar peran audio-visual sebagai media pembelajaran dalam meningkatkan efektifitas pelaksanaan Diklat yang bermuara pada peningkatan kompetensi peserta Diklat.
NO
|
PENERIMAAN
|
INFORMASI YANG DIINGAT SETELAH 3 HARI
|
1.
|
HANYA MENDENGAR
|
10
%
|
2.
|
HANYA MELIHAT
|
20
%
|
3.
|
MENDENGAR DAN MELIHAT
|
40
%
|
4.
|
MENDENGAR, MELIHAT DAN
MENGERJAKAN
|
70
%
|
Sesuatu yang perlu kita sadari adalah ternyata telah lama kita bergaul dan memanfaatkan media pembelajaran. Teknologi yang paling tua yang dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar adalah sistem pencetakan secara manual. Kemudian muncul teknologi audio-visual yang menggabungkan penemuan mekanik dengan elektronik modern untuk tujuan pembelajaran yang dilengkapi dengan teknologi mikro-prosessor yang melahirkan pemakaian komputer dan kegiatan interaktif. Kita telah mengenal dan mengoperasikan semuanya, bahkan menjadi sarana dalam melaksanakan rutinitas kerja sehari-hari. Jadi tidak ada yang asing apalagi menyulitkan..!!!
Daftar Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar