Kamis, 26 Juli 2012

Audio-Visual Tidak Sulit


AUDIO-VISUAL SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN, TIDAK SULIT…!!!
Tulisan ini lahir dan terinspirasi dari pelaksanaan
Diklat Teknis Sejenis bagi Widyaiswara Bidang Multimedia di PPMKP Ciawi-Bogor

Keberhasilan sebuah pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) ditentukan oleh beberapa hal yang salah satunya adalah kualitas pembelajaran. Upaya peningkatan mutu Diklat menjadi bagian terpadu dan tak terpisahkan dari upaya peningkatan kualitas manusia baik aspek kemampuan, kepribadian maupun tanggung jawab sebagai warga negara. Mutu dan efektifitas pelaksanaan Diklat sangat bergantung pada kualitas Widyaiswara dan pembelajarannya sehingga peningkatan metode, kualitas materi serta variasi media pembelajaran merupakan isu mendasar dan menjadi penting bagi peningkatan mutu dan efektifitas pelaksanaan Diklat.
Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau keterampilan pebelajar  sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar. Media audiovisual adalah media yang penyampaian pesannya dapat diterima oleh indera pendengaran dan indera penglihatan, akan tetapi gambar yang dihasilkannya adalah gambar diam atau sedikit memiliki unsur gerak. Batasan ini cukup luas dan mendalam mencakup pengertian sumber, lingkungan, manusia dan metode yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran/pelatihan. Tidak mudah untuk memperoleh media pembelajaran yang tepat khususnya dalam pelaksanaan Diklat. Substansi materi, kemampuan teknis pengoperasian serta latar belakang pebelajar menjadi hal penting yang perlu diperhatikan dalam pemilihan, penyusunan dan pembuatan media pembelajaran. Media pembelajaran yang beraneka ragam jenisnya tentunya juga tidak akan serta merta harus menggiring pemikiran kita untuk memilih salah satu diantaranya. Agar pemilihan media pembelajaran tersebut tepat dan sesuai dengan objek Diklat, maka perlu dipertimbangkan aspek-aspek dan kriteria dalam pemilihan media pembelajaran. Kriteria yang perlu dipertimbangkan tenaga pengajar dalam memilih media pembelajaran adalah 1) ketepatan media dengan tujuan pembelajaran; 2) dukungan terhadap isi bahan ajar; 3) kemudahan memperoleh media; 4) keterampilan dalam menggunakannya; 5) tersedia waktu untuk menggunakannya; dan 6) sesuai dengan taraf berfikir objek belajar (Nana Sudjana 1990).
Kriteria tersebut idealnya tidak menjadi masalah serius bagi Widyaiswara. Keterbukaan informasi dan kemudahan akses terhadap seluruh peluang yang ada menjadikan Widyaiswara akan semakin memiliki banyak pilihan untuk senantiasa mengembangkan dirinya. Termasuk dalam merespon beberapa kriteria dalam pemilihan media tersebut di atas. Berdasarkan hal tersebut, penulis berusaha untuk memberikan tanggapan terhadap kriteria tersebut (semoga tidak di luar konteks) sehingga menjadi titik awal atau bahkan menjadi dasar pelanjut dalam penumbuhan motivasi khususnya bagi pribadi penulis sebagai Widyaiswara.
Perkembangan media pembelajaran senantiasa mengikuti arus perkembangan teknologi dimana arus teknologi tersebut memang secara utuh harus diikuti dan dikuasai oleh seorang Widyaiswara sehingga seluruh aspek dapat terpenuhi.

1. 
Ketepatan media ; tidak lagi menjadi masalah (seharusnya) jika pengetahuan tentang hubungan antara pemilihan media dengan substansi materi dan peserta Diklat menjadi dasar dalam memilih media. Terkhusus untuk Diklat Pertanian yang pesertanya adalah petani dan penyuluh pertanian, memerlukan ketepatan pemilihan media mengingat latar belakang sosial, pendidikan dan daya serap peserta yang berbeda-beda. Aspek materi, latar belakang peserta serta tujuan pembelajaran dianggap penting dalam memilih media terkait dengan kesesuaian antara materi dengan media yang digunakan atau dampaknya terhadap hasil proses pembelajaran.
2.  Dukungan terhadap isi bahan ajar ; memilih media tentunya juga harus disesuaikan dengan isi bahan ajar. Tidak semua isi bahan ajar memerlukan media yang lengkap dan variatif. Terkadang isi bahan ajar hanya memerlukan  media yang sederhana untuk terlihat elegan dan mencapai tujuan pembelajaran.
3. Kemudahan memperoleh media ; media bisa diperoleh dari siapa saja, di mana saja dan kapan saja. Widyaiswara lahir dengan potensi dan kesempatan luar biasa untuk mengakses setiap peluang termasuk akses internet yang ada dimana-mana (termasuk di UPT masing-masing).
4. Terampil dalam penggunaannya ; keterampilan menggunakan lebih ditentukan oleh keinginan dalam diri seseorang untuk mengembangkan dirinya baik melalui kursus maupun secara otodidak. Bahkan secara khusus dilaksanakan Diklat tentang Multimedia bagi Widyaiswara (sebuah solusi efektif dalam peningkatan keterampilan aplikasi media).
5. Tersedia waktu untuk menggunakannya ;  tersedia waktu saat penyusunan bahan ajar serta tersedia waktu cukup untuk mengaplikasikannya sebagai bahan tayang dalam bentuk tatap muka (proses belajar mengajar)
6. Sesuai dengan taraf pikir objek belajar ; dengan mengingat latar belakang sosial, pendidikan dan daya serap peserta yang berbeda-beda, maka pengetahuan tentang objek belajar pun patut diidentifikasi sehingga pemilihan dan penggunaan media tidak mengurangi tujuan pembelajaran
Persepsi atas kriteria-kriteria terhadap pemilihan media tersebut didasarkan pada sikap dan prinsip yang penuh dengan optimisme tinggi khususnya dalam mendukung pelaksanaan kerja sebagai Widyaiswara. Begitupun ketika dihubungkan dengan penggunaan media pembelajaran dengan menggunakan audio-visual. Salah satu yang menjadi informasi penting yang diperoleh oleh penulis ketika mengikuti Diklat Teknis Sejenis bagi Widyaiswara Bidang Multimedia adalah ditayangkannya hasil penelitian tentang efektifitas pemahaman atau penerimaan peserta (terhitung setelah 3 hari mendapatkan informasi) berdasarkan indera yang digunakan, yaitu 10 % informasi yang dapat diingat jika hanya mendengar ; 20 % jika hanya melihat ; 40 % jika mendengar dan melihat ; serta 70 % jika mendengar, melihat dan mengerjakan. Ini menunjukkan bahwa betapa besar peran audio-visual sebagai media pembelajaran dalam meningkatkan efektifitas pelaksanaan Diklat yang bermuara pada peningkatan kompetensi peserta Diklat.
NO
PENERIMAAN
INFORMASI YANG DIINGAT SETELAH 3 HARI
1.
HANYA MENDENGAR
10 %
2.
HANYA MELIHAT
20 %
3.
MENDENGAR DAN MELIHAT
40 %
4.
MENDENGAR, MELIHAT DAN MENGERJAKAN
70 %

Sesuatu yang perlu kita sadari adalah ternyata telah lama kita bergaul dan memanfaatkan media pembelajaran. Teknologi yang paling tua yang dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar adalah sistem pencetakan secara manual. Kemudian muncul teknologi audio-visual yang menggabungkan penemuan mekanik dengan elektronik modern untuk tujuan pembelajaran yang dilengkapi dengan teknologi mikro-prosessor yang melahirkan pemakaian komputer dan kegiatan interaktif. Kita telah mengenal dan mengoperasikan semuanya, bahkan menjadi sarana dalam melaksanakan rutinitas kerja sehari-hari. Jadi tidak ada yang asing apalagi menyulitkan..!!!

Daftar Pustaka
  Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, 1991. Media Pengajaran. Bandung : Sinar Baru




Tidak ada komentar:

Posting Komentar